Langsung ke konten utama

Kapankah Mahasiswa Sadar??

 


Tulisan ini berangkat dari keresahan pikir dan diskusi-diskusi sekelompok mahasiswa dalam beberapa hari terakhir ini menggeluhkan pembayaran UKT Dan SPP yang setiap tahunnya harus di tunaikan sebagai kewajiban menuntut pendidikan di Perguruan Tinggi.

Akhir-akhir ini kita kembali di kejutkan dengan berbagai situasi kebijakan kampus yang mencekam mahasiswa. Persisnya tentang mahalnya biaya kuliah mahasiswa meski di tengah kondisi Covid, nama ini tak ding dari sebagian mahasiswa komersialisasi pendidikan namanya dalam perguruan tinggi, namun tak bisa ku sebutkan dari mana universitas itu berada tinggal mahasiswa sendiri melihat, membaca dan menganalisis terkait Biaya Kuliah yang setiap semester kian memuncak di tambah lagi kondisi perekomian orang tau yang kian merosot di tengah badai Covid 19.

Urusannya tak jauh dari mahalnya biaya kuliah hingga kian sulitnya mendapatkan pembayaran setiap semesternya. Pada kasus itulah lembaga kemahasiswaan mengambil sikap berontak atau bisa memediasi berbagai keluhan mahasiswa agar kampus tak bisa dikuasai oleh segelintir pecandu duit.

Duel untuk melawan komersialisasi pendidikan tak bisa di elukan bahkan tak hanya terjadi kali ini saja di dalam kampus, banyak taktik dan strategi yang kian di sajikan untuk melumpuhkan kebijakan tersebut. Secara wacana memang terus dikembangkan opini yang melucuti kelemahan komersialisasi pendidikan. Tampil pula para korban langsung dari kebijakan sadis ini. Tak jarang para aktivis mahasiswa itu turun untuk melakukan demo besar-besaran. Sikap mereka jelas yakni komersialisasi bukan solusi, perguruan tinggi bukan ladang untuk mencari laba dan keuntungan. Rakyat kian menjerit akibat kebijakan yang tak berpihak kepada mahasiswa.

Tapi ini bukan pertarungan heboh yang selalu kita gembor-gemborkan sebagai mahasiswa. Serangan itu diarahkan pada kebijakan bukan personal pimpinan birokrasi hanya saja kita semua mesti rasional menanggapi segala aturan dan kebijakan yang ada. Sasaran kutukan dan pemberontakan itu ada pada peraturan yakni harus di sesuaikan dengan keadaan perekonomian mahasiswa. Tulisan yang menyengat memang diperlukan untuk menghantam badai siapapun yang menghalangi perjuahan itu sendiri.

Sayangnya tak selamanya pula segala tulisan dan agitasi untuk membuat marah mahasiswa tidak bisa memacu gerakan. Itu sebabnya di beberapa perlawanan pada komersialisasi pendidikan maupun kebijakan kampus yang tak berpihak kadang-kadang kehilangan orientasi dan tujuan utamanya yakin bagaimana bisa menjawab keluhan dan masalah-masalah mahasiswa.

Meski perlawanan itu hanya berputar pada wacana yang habis di jajakan di atas meja kopi pada setiap malamnya selalu menjadi topic perdebatan dan kemudian tak ada aktualisasi diri dan implemetasi yang nyata di lapangan, bagian sebagian orang mahasiswa seperti ini di sebut lebih banyak ngomong dari pada tindakan. Aliran dukungan massa pun tak ada henti-hentinya pada setiap aksi demonstrasi hanya mengulang apa yang jadi keluhan: kampus kian mahal.

Simpati dari beberapa kalangan memang turut berdatangan tapi tak hanyut di dalamnya untuk bisa bergerak bersama, emosi tidak jadi gumpalan aksi yang keras. Darah juang dan lagu buruh tani tak lagi di gaungkan yang menjadi seruan dan pertanda perlawanan.

Meski tiap-tiap orang lalu merasa sudah berjuang total: padahal perseteruan diawali dari situ yang merasa mendominasi dari kawan seperjuangan yang lain. runyamnya lagi, gerakan mahasiswa dilumpuhkan melalui prosedur dan intervensi dari senior-senior maupun pejabat kampus yang berafialiasi dengan birokrasi. Perjuangan dan pergerakan selalu menjadi siklus bahwa yang tertindas akan kembali menindas dan itu tergambar dari beberapa mahasiswa maupun senior yang bermental feodalisme, bermental penjajah . Pernak-pernik dan realitas itu yang kadang masih tumpul dibaca oleh mahasiswa.

Seperti pengamatan penulis meski dia juga berstatus sebagai mahasiswa sangat menyadari bahwa polarisasi gerakan demonstrasi mahasiswa sudah merambah pada lingkaran-lingkaran akademik apa lagi di tambah dengan sikap pragmatisme dan apatis tak bisa terhindarkan di segerombolan mahasiswa. Hal tersebut akan selalu melumpuhkan dan melemahkan setiap gerakan yang di bangun.

Hal di atas setiap kali terjadi dalam tubuh mahasiswa itu sendiri, di atas krisis legitimasi dan kepercayaan lembaga kemahasiswaan menuntut kita harus ambil bagian dari setiap persoalana yang ada, taka da lagi saling mengharapkan ataupun hanya berlapang dada menerima keadaan tersebut. Pada mulanya ini adalah berangkat dari keresahan pikir yang terwakili dari beberapa kalangan mahasiswa. pergulatan dengan isu gerakan mahasiswa dan komersialisasi pendidikan yang penulis geluti nyaris setiap semestrer sebagai mahasiswa tetap di perhadapkan dengan masalah tersebut.

Perlawanan tak lagi menjadi bahasa bersama dalam setiap persoalan mahasiswa maupun masalah rakyat yang tertindas. Begitupun pamflet dan seruan agitasi tak lagi menggugah mahasiswa untuk bergerak dan berjuang, hanya bersikap pasrah dan menungguh ratu adil untuk menyelesaikan segala pernak pernik mahasiswa itu sendiri. Kontas sekali dengan kenyataan yang kian menjajah mahasiswa.


Pendidikan tak lagi sama seperti yang di inginkan mahasiswa di awal masuk kampus. Tanggung jawab negara dalam memenuhi anggaran pendidikan dipangkas sedemikian rupa untuk memenuhi kepentingan jangka pendek mereka, Membingkan. Berbagai regulasi dikeluarkan untuk menghilangkan tanggung jawab tersebut. Pendidikan dijadikan komoditas dan pasar untuk meraup keuntungansebanyak-banyaknya . Kapitalisme pendidikan kian berhasil menjajah dan merampas hak-hak mahasiswa itu sendiri. Lalu harus bagaimana ? Sedang memberontak di jadikan sebagai buih di tengah perjuangan sedang yang lain duduk dan mencari aman.

Di momentum seperti ini harus di butuhkan seluruh uluran tangan mahasiswa untuk menyelesaikan segala persoalan yang ada, Di butuhkan alternative konsolidasi dan mobilisasi gerakan yang harus massif jika memang di perlukan. Namun upaya-upaya mediasi dan persuasif mesti harus lebih di ke depankan. Penulis juga adalah bagian dari actor konsolidasi gerakan dalam memperjungkan masalah-masalah mahasiswa di ddalam kampus maupun rakyat di luar kampus.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perempuan Tangguh

Sesibuk apapun Perempuan Ia tidak akan pernah mengabaikan serta melupakan kodratnya sebagai seorang perempuan. Ingat.! Kodrat perempuan adalah ; Menstruasi,Mengandung, Melahirkan , dan Menyusui, selain dari keempat aspek itu, perempuan mampu mengerjakan semuanya tanpa harus diinterfensi atau tendensi oleh siapapun. Persoalan memasak, mencuci, menyapu/membersihkan bukanlah kodrat seorang perempuan yang pasti, sebab itu bisa dilakukan oleh seorang lelaki. Maka sangat disayangkan jika ketika sekelompok orang diantaranya ada perempuan dan laki-laki sedang makan bersama, maka setelah makan tidak diharuskan perempuan yang membereskan semaunya, tapi bisa diharuskan laki-laki, karena itu bukan kodrat perempuan yang pasti. Tapi jika masih ada yang mengatakan atau beropini bahwa perempuan hanya bisa bekerja di dapur, maka ia salah menafsirkan siapa itu perempuan. Sekarang coba kita telaah kembali tentang kodratnya perempuan dan siapa makhluk manusia yang paling hebat antara laki-laki dan perempu...

Pekan II Masa Prapaskah

  Sebagai orang beriman, kita sering kali menemukan persoalan dan tantangan hidup. Ada rajutan penderitaan dan kebahagiaan yang menjadi warna dalam kehidupan kita. Ada catatan tentang mereka yang membenci dan menjadi support system kita. Pada Minggu Prapaskah II ini, kita diajak belajar dari tokoh Abraham, yang mengajarkan kepada kita bahwa kegagalan dan penderitaan sebagai bagian dari olah kesetiaan iman kita. Hal senada juga disampaikan oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada Timotius agar kita tetap tabah dalam mewartakan Kabar Gembira dari Tuhan. Penderitaan yang kita alami dalam pemberitaan Kabar Sukacita hendaknya tidak membuat kita kecewa dan putus asa atau bahkan mundur dari tanggung jawab kita sebagai orang beriman. Serahkanlah dalam kasih karunia Allah. Dia tidak akan pernah membiarkan kita dikuasai oleh kegelapan. Kekuatan inilah yang harus kita kedepankan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Peristiwa transfigurasi dalam kisah Injil hari ini mestinya membuka pikir...

Ayo berLMND

  LMND atau Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi adalah sebuah organisasi politik ekstrakampus skala nasional berbentuk Liga yang dibentuk pada tanggal 9-11 Juli 1999 di Bogor oleh 20 komite aksi mahasiswa yang aktif dalam proses Reformasi. Seiring perkembangan dialektika antara situasi ekonomi politik nasional dan situasi internal organisasi, sampai saat ini LMND telah berhasil meluas dan hadir di 25 provinsi dan lebih dari 100 kota. Apa tujuan LMND didirikan dan bagaimana perjalanan organisasinya? Seperti digariskan pada AD/ART-nya, LMND bertujuan untuk menghancurkan sistem yang menindas hak-hak rakyat untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang demokratis, berkeadilan sosial dan berkedaulatan rakyat. Begitulah yang terumus di garis organisasi. Sedangkan perjalanan organisasinya adalah sebagai berikut: LMND pada awalnya didirikan pada tahun 1999 sebagai respon komite-komite aksi mahasiswa yang progresif dan radikal terhadap kegagalan proses Reformasi menjawab tuntutan rakyat pa...