Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerpen

Perempuan Trotoar

  Mata sendu perempuan muda itu menatap ke arah trotoar jalanan Kota yang kotor. Beberapa ekor tikus got saling berkejaran. Bahkan sepasang mata tikus itu memandang ke arah sepatunya yang terlihat butut. Sementara dilangit, tak terlihat kerlap-kerlip bintang menyala. Awan terlihat kelam. Sekelam hati perempuan muda itu menunggu godaan syahwat malam yang datang menghampiri jiwanya dari para pengumbar syawat tanpa malu. Sudah hamir tiga jam, perempuan itu berdiri diatas trotoar jalanan Kota yang bau. Belum ada tanda-tanda untuk menambah tebal kantong bajunya. Belum ada sama sekali. Sementara deru kendaraan terus hingar bingarkan malam. Menebar kebisingan di telinganya. Perempuan muda itu menatap langit yang makin menghitam. Udara Kota malam ini sangat kotor. Desingan suara knalpot kendaraan yang bergema cuma melahirkan asap yang mengepul di udara yang hitam. Perempuan muda itu menghela nafas panjang. Panjang sekali desahannya. Sebagaimana panjangnya episode perjalanannya hingga menda...

Nikmati Proses Kehidupan

  Pagi masih gelap. pekat. Setetes embun jatuh dari sela-sela atap pondok mengenai pelipisku. Dengan mata yang masih tertutup aku berusaha menyekanya lalu dengan tenaga yang baru aku segera beranjak dari ranjang sederhana yang di buat oleh ayah dan itu menjadi pondok kecil kami untuk berteduh. Sekejap aku kembali memejamkan mata lalu dalam hati aku melantunkan puji syukur kepada sang Ilahi. Karena telah menjaga aku dan ibu. Setelah berdoa, Aku keluar dan meregangkan urat-urat sembari mengulangi gerakan senam dasar yang di ajarkan guru sewaktu SD. Setelah itu aku pun mengganti gerakan dengan Push up di atas batu. Pada gerakan ke lima aku mulai lelah lalu dengan tenaga yang masih tersisa aku bangkit berdiri. Ibu sudah bangun sejam yang lalu. Aku melihat ia sedang berjalan di pinggir kebun mencari kayu kering. Urat di pergelangan tangannya mulai mengencang. Ia berusaha menarik kayu kering dari tumpukan jerami yang sedikit lembab karena di selimuti embun semalam hinggah pagi mendapatin...

Antara Hujan dan Kegelisahan

  Seperti biasanya aku masih belum juga tidur. Mengantuk pun tidak, hanya jari jemari ku yang aktif memainkan pensil itu hingga seolah menari di atas lembaran putih bergaris. Sang pensil pun mengerti peranan nya saat ini.  Yang harus dengan rela begadang karena aku yang menggerakkan nya dengan tangan ku. Meski aku tak punya tujuan kali ini, namun ternyata tergambar juga apa yang selama ini hatiku ingin utarakan.  Jujur saja aku ini bukan orang yang gampang mengungkapkan perasaan. Bahkan untuk sekedar berkeinginan pun aku selalu memikirkan nanti bagaimana bukan bagaimana nanti.  Tergambar disitu seorang pria yang sedang kehujanan sambil mengenggam setangkai mawar di kejauhan menatapi seorang wanita yang memakai payung untuk pergi menjauhi. Ehm, sebuah gambaran yang cukup rumit untuk di katakan sebenarnya. Situasi yang tak mengenakkan tentunya.  Bukan tanpa alasan kenapa aku bisa menggambarkan keadaan itu. Ketika perasaan dan hati ku ini tengah di landa kegelisaha...