Langsung ke konten utama

Rindu Dipungut Waktu


 Senja yang mulai beringsut,


tenggelam di matamu yang sayup,


melukis aksara dengan segala jingganya.


Indah, meski harus menepi….


 


Di tempat yang sunyi,


aku menulis sebuah puisi,


tentang kita yang sedang berjuang,


tentang hidup yang tidak bisa ditebak.


Semuanya kutuangkan pada selembar kertas putih dengan coretan pena.


 


Di kelopak matamu ada puisi.


Begitu dalam, aku takut


meluluhlantakkan puisi


yang mendiami kelopak matamu selama ini.


Sebab arti dari semua pandangan matamu, 


bisa menghapus buih-buih kesedihan


yang bergantung di mataku.


 


Puan, jika suatu saat nanti


puisiku bisa menyaingi puisi di kelopak matamu


 izinkan aku mengabadikannya


 dalam satu halaman buku.


 Menempatkan pada inti


 dari semua antologi puisiku.


 


Reruntuhan rindu jatuh


dipungut waktu,


Kata demi kata kutulis rapi


dalam rahim puisi.


Imajinasi meledak di kepala


Aku tidak rela


Rindu dipungut waktu.


 


Lalu, aku mencoba untuk mengembalikannya, 


mengubur dalam-dalam


agar rindu tidak tercecar kemana-mana.


Sebab bila hujan datang


rindu akan mengalir pada hati yang salah.

Komentar

Posting Komentar