Langsung ke konten utama

batu-batu bisu menanggung lumut




 antara surga dan neraka

inilah ziarah yang merangkak lambat

batu-batu bisu menanggung lumut

bersujud dalam surut mata air kabut


melecut hari:

kata siapa semenjak luka kau namai doa.

pahit kopi dibiarkan mendingin dalam gelas.


antara doa dan dosa

inilah ziarah yang bertahan lewat kecup kuncup-kuncup cendawan di puing ngilu

hanya saja sisa air mata berserakan pada jalan menjebak kita


sekaligus memungut sisa doa yang jatuh

bagaikan dosa yang humus dalam akar.

sepanjang jalan kenangan


Tuhan memandang dalam sembahyang

adakah doa untukku??

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perempuan Tangguh

Sesibuk apapun Perempuan Ia tidak akan pernah mengabaikan serta melupakan kodratnya sebagai seorang perempuan. Ingat.! Kodrat perempuan adalah ; Menstruasi,Mengandung, Melahirkan , dan Menyusui, selain dari keempat aspek itu, perempuan mampu mengerjakan semuanya tanpa harus diinterfensi atau tendensi oleh siapapun. Persoalan memasak, mencuci, menyapu/membersihkan bukanlah kodrat seorang perempuan yang pasti, sebab itu bisa dilakukan oleh seorang lelaki. Maka sangat disayangkan jika ketika sekelompok orang diantaranya ada perempuan dan laki-laki sedang makan bersama, maka setelah makan tidak diharuskan perempuan yang membereskan semaunya, tapi bisa diharuskan laki-laki, karena itu bukan kodrat perempuan yang pasti. Tapi jika masih ada yang mengatakan atau beropini bahwa perempuan hanya bisa bekerja di dapur, maka ia salah menafsirkan siapa itu perempuan. Sekarang coba kita telaah kembali tentang kodratnya perempuan dan siapa makhluk manusia yang paling hebat antara laki-laki dan perempu...

Rindu Dipungut Waktu

 Senja yang mulai beringsut, tenggelam di matamu yang sayup, melukis aksara dengan segala jingganya. Indah, meski harus menepi….   Di tempat yang sunyi, aku menulis sebuah puisi, tentang kita yang sedang berjuang, tentang hidup yang tidak bisa ditebak. Semuanya kutuangkan pada selembar kertas putih dengan coretan pena.   Di kelopak matamu ada puisi. Begitu dalam, aku takut meluluhlantakkan puisi yang mendiami kelopak matamu selama ini. Sebab arti dari semua pandangan matamu,  bisa menghapus buih-buih kesedihan yang bergantung di mataku.   Puan, jika suatu saat nanti puisiku bisa menyaingi puisi di kelopak matamu  izinkan aku mengabadikannya  dalam satu halaman buku.  Menempatkan pada inti  dari semua antologi puisiku.   Reruntuhan rindu jatuh dipungut waktu, Kata demi kata kutulis rapi dalam rahim puisi. Imajinasi meledak di kepala Aku tidak rela Rindu dipungut waktu.   Lalu, aku mencoba untuk mengembalikannya,  mengubur dalam-...

Jangan biarkan tanah menggugurkan dosa

Jangan biarkan tanah menggugurkan dosa,  biarkan rona doa sesungguhnya  bertafakur di lekuk bumi  dengan nyanyian requiem mengecup waktu dan mata puisi mencumbui luka yang sempat jadi prahara. biarkan bumi yang lajang menghamba dengan setia, menjahit luka dengan benang-benang puisi sekadar membaringkan kata-kata yang tak punya apa-apa. semestinya tak cukup pantas,  berkarat dalam kanvas  takdir sesungguhnya,  buat membaringkan nama dalam geladak usia. Cinta mungkin di sini, di atas tanah tempat bercermin menggugurkan dosa dengan doa di ceruk hati membawa raga bercakap dengan gemuruh zikir memahat Tuhan yang sebenarnya tak ada jarak pemisah.